Semangat dan sumpah setia pemuda
Indonesia 90 tahun yang lalu akhirnya membuahkan hasil setelah berselang 17 tahun lamanya. Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, pada 17 Agustus 1945 yang
bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H, bertempat di rumah seorang keturunan Arab,
Ir. Soekarno didampingi Drs. Moh. Hatta mengikrarkan kemerdekaan Indonesia. Sejak
saat itulah, entitas bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis secara
nyata telah melepaskan diri dari penjajahan dan membentuk Negara Indonesia. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan
Indonesia pun telah sampailah kepada
saat yang berbahagia.
Selasa, 21 Agustus 2018
Selasa, 19 September 2017
Selanjutnya Siapa?
Posted on 23.26 by Anwaril Hamidy
Selanjutnya siapa?
Raja Mesir bermimpi aneh. Ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk di makan tujuh ekor sapi kurus. Mimpi itu terus ia alami berulang-ulang. Ahli nujumnya tak mampu memecahkan teka-teki tersebut. Lalu seorang pelayannya merekomendasikan Nabi Yusuf as untuk menafsirkan mimpi tersebut. Nabi Yusuf as pun dipanggil lalu diminta untuk menjelaskan makna dari mimpi sang raja. Nabi Yusuf as pun berpesan kepada raja Mesir untuk menanam tanaman selama tujuh tahun karena akan datang kemarau panjang selama tujuh tahun pula. Atas bantuan Nabi Yusuf, beliau pun dibebaskan dari penjara dan ditawarkan untuk menjabat sebagai penasehat. Namun Nabi Yusuf memilih untuk menjadi bendaharawan negara. Nabi Yusuf punya alasan mengapa meminta amanah sebagai bendahara negara. Ia memikirkan masa depan umatnya di wilayah Kan’an yang juga akan mengalami kemarau yang sama hebatnya. Dan terbukti, peranan Nabi Yusuf as, sangat penting dalam pembagian makanan sehingga semua rakyat merasa puas (1).
Senin, 24 April 2017
Don't Judge People By Its Uno
Posted on 00.03 by Anwaril Hamidy
Setelah meladeni diskusi yang cukup panjang tentang politik Indonesia
dan menutupnya dengan makan malam, tiba-tiba saja aku teringat akan
kekalahanku ketika bermain Uno balok tadi siang. Aturan permainan Uno cek di http://rumahinspirasi.com/permainan-keluarga-uno-stacko/
![]() |
| Uno Stacko. Photo by: Ani Agus Riani |
Rabu, 22 Februari 2017
Etika
Posted on 21.43 by Anwaril Hamidy
Apa itu etika? Ada yang
mengatakan etika itu adalah sikap. Ada yang berpendapat bahwa ia tidak lain
adalah nilai-nilai dalam kehidupan. Ada pula yang menganggap etika adalah
tentang tata cara. Jadi, apa itu etika? Untuk memperoleh gambaran lebih jelas,
mari kita perhatikan dua ilustrasi berikut.
![]() |
| http://media.efpa.eu/images/assets/ethics/ethics_3.jpg |
Jumat, 13 Januari 2017
Bahan Ajar Lingkaran (Full Version)
Posted on 10.02 by Anwaril Hamidy
Rabu, 04 Januari 2017
Kumpulan Tulisan Matematika Model
Posted on 16.20 by Anwaril Hamidy
Penulisan Karya Ilmiah
Posted on 16.05 by Anwaril Hamidy
Klik di sini. Semoga bermanfaat
Rabu, 14 Desember 2016
Concept Map of Research By Dr. Marsigit
Posted on 10.40 by Anwaril Hamidy
Senin, 12 September 2016
Elegi Kereta Api
Posted on 14.56 by Anwaril Hamidy
Pengalaman yang
dinamis, penuh rintangan, menggelitik emosi bahkan tak jarang menggerus fisik
memang layak utk dikisahkan kembali. Karena akan selalu ada hikmah di sana,
meski tak jarang baru disadari ketika pengalaman itu telah terlampau jauh pergi
digilas oleh rutinitas sehari-hari. Begitu pula kisahku kali ini. Dalam setting
pagi hari Yogyakarta yang cukup menegangkan, hingga akhirnya aku bisa duduk
manis dalam sebuah gerbong kereta sambil menikmati indahnya pemandangan dan pengalaman pertama menaiki kereta api di Yogyakarta.
Ada banyak hikmah yang tumpah ruah dalam setiap letak-letik dan detak-detik
perjalanannya. Siap untuk diolah menjadi untaian kalimat yang sayang untuk
dilewatkan. Setidaknya bagi diriku pribadi dan kawan seperjalanan. Dan inilah kisahku.
Kamis, 18 Agustus 2016
Korupsi dalam Hukum dan Perundang-Undangan Indonesia*
Posted on 10.31 by Anwaril Hamidy
1. Tindak
pidana Korupsi di atur dalam UU Tahun 1999 nomor 31 yang kemudian diperbarui
dengan UU tahun 2001 tahun 2001
2. Terdapat
beberapa komponen dari tindak pidana korupsi: suap dan gratifikasi (pasal 5 dan
6), kecurangan atas apa yang dipercayakan (pasal 7), mencuri harta negara,
melakukan tindakan melawan hukum, menyalahkan wewenang, menimbulkan kerusakan (corrupt) berupa kerugian negara.
Selasa, 09 Agustus 2016
MATEMATIKA ANTI KORUPSI
Posted on 09.32 by Anwaril Hamidy
Adil ialah menimbang yang sama berat,
menyalahkan yang salah, dan membenarkan
yang benar,
mengembalikan hak yang empunya, dan jangan berlaku
zhalim di atasnya
(Buya
Hamka)
Selasa, 02 Agustus 2016
FORMAL
Posted on 16.53 by Anwaril Hamidy
Mata Kuliah Matematika Model
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit,
MA.
Formal merupakan suatu metode dalam
menyusun penalaran yang logis, konsisten, terstruktur, koheren, analitik dan
ideal. Dalam hal ini logika merupakan hal yang fundamental dalam memahami
metode formal. Logika (Beth, 1962) merupakan teori deduktif inferensial yang
berkaitan erat dengan konsep himpunan, premis dan modus Ponens. Dalam membangun
konstruksi logika, perlu ditetapkan (F) formula-formula (U, V, W, ...) yang
merupakan terdiri dari atom-atom (A, B, C, ...) pada suatu himpunan (K). Dengan
ketetapan inilah, melalui penerapan modus Ponens, metode Formal dikembangkan
hingga diperoleh kesimpulan (Z). Beth (1962) menjelaskan bahwa terdapat tiga
konsepsi logika sebagai suatu teori deduksi inferensial, yaitu teori deduksi
murni (formalis), semantik, dan aksiomatik. Ketiganya memiliki keterkaitan satu
sama lain. Sehingga untuk dapat memahami dan mengembangkan logika secara
lengkap dan mudah, kita harus mempelajari ketiganya.
Minggu, 31 Juli 2016
Korupsi dan Masa Depan Bangsa*
Posted on 20.42 by Anwaril Hamidy
- Apa bedanya korupsi dengan mencuri? Padahal keduanya sama-sama mengambil hak milik orang lain untuk kepentingan pribadi. Namun mengapa mencuri dianggap suatu kejahatan biasa, sedangkan korupsi dianggap suatu kejahatan yang luar biasa?
Rabu, 06 Juli 2016
Ramazan Bayramizi (Eid Mubarak) 1437 H
Posted on 19.10 by Anwaril Hamidy
Rabu, 04 Mei 2016
Film UP dan Tragedi Bedugul
Posted on 23.47 by Anwaril Hamidy
Tulisan ini ku
buat beberapa hari setelah kejadian jatuhnya HPku di danau daerah Bedugul,
Bali. Awalnya aku hanya ingin sekedar membuat puisi, sebagaimana tulisan-tulisan
sebelumnya yang berisi kesan tentang daerah yang ku lalui selama wisata
Malang-Lombok-Bali. Namun bagian akhir film UP yang kutonton sembari mengisi
perut malam ini, memberikan inspirasi yang sayang jika hanya berakhir dalam
bentuk puisi. Maka ijinkan saya untuk memulai tulisan ini dengan menyampaikan bagian
akhir dari film UP, meski saya yakin pembaca sudah tidak asing lagi dengan film
yang satu ini.
Minggu, 01 Mei 2016
Maghrib di Ende
Posted on 14.20 by Anwaril Hamidy
Menjelang maghrib. Kami sampai di Desa Ende, tempat di mana rumah adat asli suku Sasak masih bisa ditemui. Di depan pintu masuk, kehadiran bus kami disambut oleh beberapa penduduk desa. Segera kami turun dari bus dan mengambil posisi berdiri di dekat plang bertuliskan "Desa Wisata Sasak Ende", sambil berharap yang membawa kamera segera sadar akan peran pentingnya saat itu. Setelah puas berfoto, seorang pria menghampiri kami. Dia mengarahkan kami untuk masuk ke desa sembari memulai penjelasan tentang profil desa yang cukup kontras dengan lingkungan sekitarnya ini. Dia adalah warga asli Desa Ende, tapi tak sempat aku bertanya namanya. Bahasa Indonesianya cukup baik dan gaul, jika dibandingkan dengan beberapa penjual yang kutemui di sekitar pantai Kuta dan Tanjung Aan. Sehingga diskusi pun mengalir dengan cair tanpa merasa canggung.
Singkat cerita, tibalah kami di rumah adat suku Sasak. Sebuah rumah yang termasuk masih alami jika dilihat dari tiang-tiangnya yang berupa bambu, atapnya yang menggunakan ilalang kering, dan lantainya yang berupa tanah. Namanya Bale Tani, yang berarti rumah petani. Cukup menggambarkan profesi utama warga desa Ende, yaitu petani. Di teras nampak seorang wanita yang cukup berumur duduk di atas tikar sambil mengunyah sesuatu. Tebakanku itu adalah sirih, jika dilihat dari warna bungkusannya yang hijau dan cara ibu itu memilin-milin bungkusan itu. Tak sempat bertanya banyak, ibu itu langsung menjadi sasaran objek fotografi para perempuan. Sedangkan pria yang sedari tadi mendampingi kami mulai menjelaskan tentang bentuk, bahan serta filosofi dari bangunan ini.
Hal unik yang pertama kali terlintas di pikiran adalah ukuran tinggi atap bale yang cukup rendah. Hampir-hampir atapnya menyentuh kepalaku yang termasuk kategori manusia bertubuh kurang tinggi. Alhasil setiap yang ingin masuk harus menunduk agar kepala tak membentur langit-langit rumah. Namun bentuk atap yang rendah bukan tanpa filosofi. Itu perlambang sikap hormat dari yang bertamu kepada si empunya rumah. Sehingga setinggi apapun derajat manusia yang bertamu, ia pasti akan 'membungkuk' sebagai bentuk rasa hormat dan sopan santun. Hal yang mengejutkan berikutnya adalah ruangan bale yang tanpa sekat. Dan jika malam tlah tiba, ayah dan anak lelakinya tidur di teras beratap rendah, sedangkan ibu dan anak perempuannya tidur di dalam bale. Hal ini dimaksudkan agar proses pendidikan anak benar-benar personal dan optimal dilakukan oleh orangtua. Ada satu hal lagi yang unik, namun rumornya telah lama ku dengar lewat televisi. Yakni Bale Tani yang rutin dipel dengan kotoran sapi. Kotoran sapi digunakan untuk memperkuat kesolidan tanah yang menopang rumah, (katanya) menjaga kebersihan dan menghindarkan pemilik rumah dari penyakit dan sihir. Sapi memang merupakan ternak yang berperan besar dalam kehidupan warga Desa Ende. Investasi bagi pendidikan generasi muda. Penentu kasta seseorang ketika ia menikah. Saking pentingnya sapi bagi suatu keluarga, bahkan keperluan makan paginya lebih didahulukan daripada sarapan. Namun jika musim panen masih lama sedang persediaan menipis, maka sapi yang mulia itu berakhir di pemotongan hewan atau beralih pemilik alias dijual. Begitu kira-kira penjelasan pria yang mendampingi kami, ketika langkah tak terasa telah tiba di kandang sapi yang berdampingan dengan gudang kotoran dan Bale Lumbung.
Ya, Bale Lumbung. Sebuah bangunan dengan bentuk lebih ramping daripada Bale Tani, lebih tinggi seperti rumah panggung, tidak memiliki akses keluar masuk kecuali hanya sebuah jendela kecil. Di sinilah beberapa keluarga menyimpan hasil panen mereka sebagai persediaan makan hingga masa panen tiba kembali. Desa Ende memiliki 29 kepala keluarga dengan empat buah Bale Lumbung. Jadi, diperkirakan satu Bale Lumbung digunakan menyimpan 7-8 kepala keluarga. Mendengar penjelasan tentang Bale Lumbung, membawa pikiranku pada kisah Nabi Yusuf as. Ketika Al Aziz, pemimpin Mesir saat itu bermimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Lalu Nabi Yusuf as menginterpretasikan mimpi tersebut yang direkam dalam surah Yusuf ayat 47-49.
Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur". (QS. Yusuf: 47-49)
Prediksi Nabi Yusuf as. ini kemudian dikenal di dunia barat dengan istilah Joseph Cycle (siklus Nab Yusuf), dan menjadi panduan dalam memprediksi gejala-gejala krisis moneter saat ini. Dan di sini, di Desa Ende, pola atau siklus Nabi Yusuf ini telah lama diterapkan, meski tidak dalam rentang waktu 7 tahunan.
Hari makin gelap ketika pria tadi mengajak kami untuk kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Kami pun bergegas kembali, menyisakan pelajaran dari desa Ende. Desa Ende di Lombok Tengah memberikan kesan orisinil dan alami. Cukup kontras dengan jalan-jalan yang kami lalui ketika menuju ke peristirahatan. Desa Ende merupakan satu dari sekian daerah yang masih mempertahankan tradisi suku Sasak di era globalisasi dan modernisasi. Tradisi dan adat yang unik, namun penuh filosofi. Begitulah orang terdahulu. Mereka tidak sekolah setinggi kita, namun penuh hikmah dan pelajaran.
Lombok, 1 Mei 2016
Selamat Hari Buruh Internasional
H-36 Ramadhan
Singkat cerita, tibalah kami di rumah adat suku Sasak. Sebuah rumah yang termasuk masih alami jika dilihat dari tiang-tiangnya yang berupa bambu, atapnya yang menggunakan ilalang kering, dan lantainya yang berupa tanah. Namanya Bale Tani, yang berarti rumah petani. Cukup menggambarkan profesi utama warga desa Ende, yaitu petani. Di teras nampak seorang wanita yang cukup berumur duduk di atas tikar sambil mengunyah sesuatu. Tebakanku itu adalah sirih, jika dilihat dari warna bungkusannya yang hijau dan cara ibu itu memilin-milin bungkusan itu. Tak sempat bertanya banyak, ibu itu langsung menjadi sasaran objek fotografi para perempuan. Sedangkan pria yang sedari tadi mendampingi kami mulai menjelaskan tentang bentuk, bahan serta filosofi dari bangunan ini.
Hal unik yang pertama kali terlintas di pikiran adalah ukuran tinggi atap bale yang cukup rendah. Hampir-hampir atapnya menyentuh kepalaku yang termasuk kategori manusia bertubuh kurang tinggi. Alhasil setiap yang ingin masuk harus menunduk agar kepala tak membentur langit-langit rumah. Namun bentuk atap yang rendah bukan tanpa filosofi. Itu perlambang sikap hormat dari yang bertamu kepada si empunya rumah. Sehingga setinggi apapun derajat manusia yang bertamu, ia pasti akan 'membungkuk' sebagai bentuk rasa hormat dan sopan santun. Hal yang mengejutkan berikutnya adalah ruangan bale yang tanpa sekat. Dan jika malam tlah tiba, ayah dan anak lelakinya tidur di teras beratap rendah, sedangkan ibu dan anak perempuannya tidur di dalam bale. Hal ini dimaksudkan agar proses pendidikan anak benar-benar personal dan optimal dilakukan oleh orangtua. Ada satu hal lagi yang unik, namun rumornya telah lama ku dengar lewat televisi. Yakni Bale Tani yang rutin dipel dengan kotoran sapi. Kotoran sapi digunakan untuk memperkuat kesolidan tanah yang menopang rumah, (katanya) menjaga kebersihan dan menghindarkan pemilik rumah dari penyakit dan sihir. Sapi memang merupakan ternak yang berperan besar dalam kehidupan warga Desa Ende. Investasi bagi pendidikan generasi muda. Penentu kasta seseorang ketika ia menikah. Saking pentingnya sapi bagi suatu keluarga, bahkan keperluan makan paginya lebih didahulukan daripada sarapan. Namun jika musim panen masih lama sedang persediaan menipis, maka sapi yang mulia itu berakhir di pemotongan hewan atau beralih pemilik alias dijual. Begitu kira-kira penjelasan pria yang mendampingi kami, ketika langkah tak terasa telah tiba di kandang sapi yang berdampingan dengan gudang kotoran dan Bale Lumbung.
Ya, Bale Lumbung. Sebuah bangunan dengan bentuk lebih ramping daripada Bale Tani, lebih tinggi seperti rumah panggung, tidak memiliki akses keluar masuk kecuali hanya sebuah jendela kecil. Di sinilah beberapa keluarga menyimpan hasil panen mereka sebagai persediaan makan hingga masa panen tiba kembali. Desa Ende memiliki 29 kepala keluarga dengan empat buah Bale Lumbung. Jadi, diperkirakan satu Bale Lumbung digunakan menyimpan 7-8 kepala keluarga. Mendengar penjelasan tentang Bale Lumbung, membawa pikiranku pada kisah Nabi Yusuf as. Ketika Al Aziz, pemimpin Mesir saat itu bermimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Lalu Nabi Yusuf as menginterpretasikan mimpi tersebut yang direkam dalam surah Yusuf ayat 47-49.
Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur". (QS. Yusuf: 47-49)
Prediksi Nabi Yusuf as. ini kemudian dikenal di dunia barat dengan istilah Joseph Cycle (siklus Nab Yusuf), dan menjadi panduan dalam memprediksi gejala-gejala krisis moneter saat ini. Dan di sini, di Desa Ende, pola atau siklus Nabi Yusuf ini telah lama diterapkan, meski tidak dalam rentang waktu 7 tahunan.
Hari makin gelap ketika pria tadi mengajak kami untuk kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan. Kami pun bergegas kembali, menyisakan pelajaran dari desa Ende. Desa Ende di Lombok Tengah memberikan kesan orisinil dan alami. Cukup kontras dengan jalan-jalan yang kami lalui ketika menuju ke peristirahatan. Desa Ende merupakan satu dari sekian daerah yang masih mempertahankan tradisi suku Sasak di era globalisasi dan modernisasi. Tradisi dan adat yang unik, namun penuh filosofi. Begitulah orang terdahulu. Mereka tidak sekolah setinggi kita, namun penuh hikmah dan pelajaran.
Lombok, 1 Mei 2016
Selamat Hari Buruh Internasional
H-36 Ramadhan
Sabtu, 30 April 2016
Bali dalam Bus
Posted on 13.03 by Anwaril Hamidy
Bali
Sejuta pura
Sejuta adat dan tradisi
Mari duduk sejenak
Dan dengarkanlah kisahnya
Dari dalam bus,
Dari seorang pemandu wisata
Bali, pulau sejuta pura
Punya kisah yang tak biasa
Tubuh yang dilukis
Dan sabung ayam
yang tak pernah habis
Tradisi pemuda
yang sulit dikikis
Makin lekat,
Dengan sajian tuak hangat
Di Bali,
Ada desa terpencil lagi terisolasi
Diapit bukit kanan dan kiri
Usia di atas 60 thn tak ada lagi
Semua tlah menghadap Ilahi
Dibunuh,
Dagingnya jadi sesaji
dibagi ke tetangga sanak famili
Darahnya jadi tinta kain
Bernilai seni dan mistis yg tinggi
Bali,
Pulau dengan luas 6500 km persegi
Yg wafat tak dikubur dalam Bumi
Namun diabukan dengan kobaran api
Atau dibiarkan
membusuk di bawah pepohonan
Air pemandian mayat
Digunakan utk menanak nasi hangat
Atau di minum oleh karib kerabat
Bali,
Artinya persembahan
Kepada Tuhan
Lewat arca, berupa makanan
Ataupun hasil tanaman
1 jam tentang Bali
Dari dalam bus
Dari seorang pemandu wisata,
Adakah kebenarannya?
Semoga ada umur untuk membuktikannya
Bali-Lombok
30 April 2016
H-37 Ramadhan
Sejuta pura
Sejuta adat dan tradisi
Mari duduk sejenak
Dan dengarkanlah kisahnya
Dari dalam bus,
Dari seorang pemandu wisata
Bali, pulau sejuta pura
Punya kisah yang tak biasa
Tubuh yang dilukis
Dan sabung ayam
yang tak pernah habis
Tradisi pemuda
yang sulit dikikis
Makin lekat,
Dengan sajian tuak hangat
Di Bali,
Ada desa terpencil lagi terisolasi
Diapit bukit kanan dan kiri
Usia di atas 60 thn tak ada lagi
Semua tlah menghadap Ilahi
Dibunuh,
Dagingnya jadi sesaji
dibagi ke tetangga sanak famili
Darahnya jadi tinta kain
Bernilai seni dan mistis yg tinggi
Bali,
Pulau dengan luas 6500 km persegi
Yg wafat tak dikubur dalam Bumi
Namun diabukan dengan kobaran api
Atau dibiarkan
membusuk di bawah pepohonan
Air pemandian mayat
Digunakan utk menanak nasi hangat
Atau di minum oleh karib kerabat
Bali,
Artinya persembahan
Kepada Tuhan
Lewat arca, berupa makanan
Ataupun hasil tanaman
1 jam tentang Bali
Dari dalam bus
Dari seorang pemandu wisata,
Adakah kebenarannya?
Semoga ada umur untuk membuktikannya
Bali-Lombok
30 April 2016
H-37 Ramadhan
Malang-Lombok-Bali
Posted on 02.36 by Anwaril Hamidy
Malang-Lombok-Bali
Selama enam hari
Senatiasa singgah setiap 4 jam sekali
Tuk shalat
Istirahat
Makan
Dan mengisi perbekalan
Malang-Lombok-Bali
Dipersiapkan selama 30 hari
Tuk melintasi tiga provinsi
Menjadi rekor perjalanan panjang
Untuk belajar
Berbagi
Dan rekreasi
Malang-Lombok-Bali
Dan semua orang bersiap diri
Membawa bekal dan tas berbagai ukuran
Ada yang besar isi lembaran baju
Adapula yang kecil isi lembaran 50rb
Malang-Lombok-Bali
Jadi analogi
Atas dunia yang fana ini
Dibanding akhirat yang abadi
Hidup sekarang hanya persinggahan
Tuk mengambil sebanyak2 perbekalan
Namun bukan tujuan akhir
Yang menguras akal dan pikir
Sedang kampung akhirat
Pemberhentian terakhir
Akan jadi perjalanan panjang
Namun melenakan
Dan ukuran perbekalan
akan sangat menentukan
Jika yang enam hari
Kita persiapkan selama sebulan
Apatah lagi menghadapi hidup yang abadi?
Banyuwangi-Bali
29 April 2016
H-38 Ramadhan
Selama enam hari
Senatiasa singgah setiap 4 jam sekali
Tuk shalat
Istirahat
Makan
Dan mengisi perbekalan
Malang-Lombok-Bali
Dipersiapkan selama 30 hari
Tuk melintasi tiga provinsi
Menjadi rekor perjalanan panjang
Untuk belajar
Berbagi
Dan rekreasi
Malang-Lombok-Bali
Dan semua orang bersiap diri
Membawa bekal dan tas berbagai ukuran
Ada yang besar isi lembaran baju
Adapula yang kecil isi lembaran 50rb
Malang-Lombok-Bali
Jadi analogi
Atas dunia yang fana ini
Dibanding akhirat yang abadi
Hidup sekarang hanya persinggahan
Tuk mengambil sebanyak2 perbekalan
Namun bukan tujuan akhir
Yang menguras akal dan pikir
Sedang kampung akhirat
Pemberhentian terakhir
Akan jadi perjalanan panjang
Namun melenakan
Dan ukuran perbekalan
akan sangat menentukan
Jika yang enam hari
Kita persiapkan selama sebulan
Apatah lagi menghadapi hidup yang abadi?
Banyuwangi-Bali
29 April 2016
H-38 Ramadhan
Jumat, 29 April 2016
Di Malang Aku Bercermin
Posted on 23.02 by Anwaril Hamidy
Di suatu pagi
Hari Jumat tgl 29
Menuju kota Malang yg dingin
tak tertahan
Menjemput janji
Anak perantauan
Tuk bertemu di kampus pendidikan
2 tahun bukan waktu yg singkat
Dan cermin yang baik adalah sahabat,
Maka di sini,
Di Malang aku bercermin
Atas tutur, gesture dan tolak ukur
Yang berubah teratur
Namun, adakah itu salah?
Jika adaptasi adalah cara
bagiku mempertahankan diri
Jogja dengan keistimewaannya
Kampus dengan keragamannya
Gerakan dengan dinamikanya
Dan 2 tahun ketidakbersuaan
Cukup menjadi variabel yg signifikan
Atas ketidaksamaan dulu dan sekarang
Maka, di Malang aku bercermin
Bahwa perubahan itu tak terhindarkan
Aku bukan yang dulu lagi
Ada hal yang bertambah
Ada hal yang dikurangi
Itu semua dalam niat perbaiki diri
Maka doakanlah, agar aku istiqomah
Jika Jogja adalah pemberhentian selanjutnya
Sedang cermin terbaik tetaplah kawan setia,
Siapkah anda bercermin kepada saya?
Banyuwangi-Bali
29 April 2016
H-38 Ramadhan
Hari Jumat tgl 29
Menuju kota Malang yg dingin
tak tertahan
Menjemput janji
Anak perantauan
Tuk bertemu di kampus pendidikan
2 tahun bukan waktu yg singkat
Dan cermin yang baik adalah sahabat,
Maka di sini,
Di Malang aku bercermin
Atas tutur, gesture dan tolak ukur
Yang berubah teratur
Namun, adakah itu salah?
Jika adaptasi adalah cara
bagiku mempertahankan diri
Jogja dengan keistimewaannya
Kampus dengan keragamannya
Gerakan dengan dinamikanya
Dan 2 tahun ketidakbersuaan
Cukup menjadi variabel yg signifikan
Atas ketidaksamaan dulu dan sekarang
Maka, di Malang aku bercermin
Bahwa perubahan itu tak terhindarkan
Aku bukan yang dulu lagi
Ada hal yang bertambah
Ada hal yang dikurangi
Itu semua dalam niat perbaiki diri
Maka doakanlah, agar aku istiqomah
Jika Jogja adalah pemberhentian selanjutnya
Sedang cermin terbaik tetaplah kawan setia,
Siapkah anda bercermin kepada saya?
Banyuwangi-Bali
29 April 2016
H-38 Ramadhan
Langganan:
Postingan (Atom)








